• Apresiasi Indonesian CultureBangga sebagai Anak Indonesia
  • Enjoy LearningPembelajaran yang Menyenangkan
  • Guru TerbaikGuru yang Hangat & Menginspirasi
  • EntrepreunershipMandiri, Berani, dan selalu berkarya
  • GardeningMenanam untuk bumi yang lebih hijau
  • PemimpinSetiap anak memiliki jiwa kepemimpinan
  • HijauMenjaga keseimbangan alam
  • PersahabatanBersama sahabat mempelajari seisi alam semesta
  • Scientific Process SkillBerbudaya Ilmiah dalam berfikir dan berperilaku
  • Save The Earth!Kampanye 3R : Reduce, Reuse, Recycle
  • The Best Place!Sekolah ramah anak
  • Satu KeluargaBersamamu melewati masa remaja
  • Kerja SamaDan tidaklah Allah menciptakanmu selain untuk saling tolong-menolong

Artikel Umum

Reward and Punishment, Masih Perlukah?

Oleh: Bu Wiwik & Pak Alim
Guru SD Alam Ar Ridho

Anak merupakan amanah dari Allah kepada kita, hatinya masih suci bagaikan mutiara tanpa goresan apalagi ukiran. Mutiara itu siap untuk diukir dan sangat cenderung kepada apa saja yang mempengaruhinya. Jika ia dididik secara baik niscaya ia akan tumbuh menjadi anak yang baik. Namun jika ia dibiarkan begitu saja tanpa didikan, pembiasaan serta perilaku yang baik niscaya ia akan tumbuh menjadi anak yang menyimpang.

Masa kanak-kanak adalah masa keemasan yang tidak boleh kita sia-siakan begitu saja. Pendidikan yang baik adalah hak setiap anak dan kewajiban orang tua untuk memberikannya. Reward (hadiah) dan punishment (hukuman) dalam mendidik anak apakah masih diperlukan?

Pertanyaan itu muncul seiring pro dan kontranya pemberian rewads and punishment itu dilakukan. Permasalahan ini sangatlah penting untuk diperhatikan mengingat setiap kondisi anak tidaklah sama. Pemberian hadiah dan hukuman tujuannya adalah dalam rangka memperbaiki anak, serta memotivasinya agar menjadi lebih baik dan mengikis segala bentuk keburukannya. Semestinya setiap pendidik ataupun orang tua memperhatikan betul metode dalam memberikan hadiah dan hukuman, jangan sampai pemberian hadiah dan hukuman itu menjadikan anak semakin buruk. Sebagai contohnya adalah kasus-kasus anak yang menjadi kebal terhadap hukuman, ataupun ketergantungan anak terhadap hadiah, meminta lebih dan lebih jika ia telah melakukan suatu kebaikan. Itu semua merupakan contoh dari pemberian reward and punishment yang tidak tepat. Agar mendapatkan hasil yang diharapkan maka diperlukan keseimbangan atau proporsi yang tepat dalam memberikan reward and punishment.

Bentuk Pemberian Rewards

Watak dasar manusia adalah senang jika jerih payahnya dihargai tak terkecuali pada seorang anak. Ia akan lebih senang dan termotivasi jika ada seseorang, baik itu orang tua atau pendidik yang menghargainya setelah anak tersebut berhasil dalam melakukan sesuatu kebaikan. Pemberian hadiah ini bisa dalam wujud materi maupun non materi. Perlu diperhatikan jika kita ingin memberikan hadiah berupa materi hendaklah barang itu yang memiliki nilai edukatif yang memang dibutuhkan oleh anak, dan jangan sampai pemberian hadiah berupa barang berpotensi menimbulkan ketergantungan anak terhadapnya sehingga ia akan melakukan kebaikan setelah menerima hadiah.

Wujud pemberian hadiah yang lain adalah non materi, kedengarannya sepele namun justru berpengaruh besar terhadap kejiwaan seorang anak. Sebab merasa senang menerima hadiah berupa barang bertahan sebentar saja selanjutnya anak merasa bosan dan melupakannya. Sementara menerima hadiah dalam bentuk non materi akan bertahan lama dan membekas ke dalam jiwa. Pemberian hadiah terbaik ini bisa dalam wujud perhatian verbal maupun fisik. Contoh perhatian dalam bentuk verbal adalah pujian yang indah dan do'a yang baik misalnya dengan mengucapkan “subhaanallah”, ”barokallah hufik”, ”ahsantum”, “bagus sekali tulisanmu…”,”rajin sekali kamu hari ini…”dsb. Sementara pemberian hadiah dalam bentuk perhatian secara fisik misalnya berupa pelukan, menegakkan bahu disertai senyuman, acungan jempol maupun elusan kepala sambil mengucapkan komentar atau pujian yang indah.

Bentuk Pemberian Punishment

Perlu diperhatikan bahwa pemberian sanksi, hukuman atau punishment tujuannya adalah memperbaiki anak bukan untuk menjadikan anak trauma secara kejiwaan sehingga mempengaruhi kondisi psikis dan emosinya, melainkan mengikis semua keburukannya serta menjadikan anak itu sadar terhadap kesalahannya. Wujud pemberian punishment yang baik adalah penekanan pada sisi edukatif guna membentuk pribadi anak yang bertanggung jawab dan dapat menerima konsekuensinya atas perbuatan buruk yang ia lakukan. Contoh pemberian punishment yang bersifat mendidik adalah salah satunya dengan memperlihatkan wajah yang masam untuk menunjukkan ketidaksukaan pendidik atau orang tua terhadap anak didiknya yang melakukan pelanggaran sehingga anak didik menyadari perubahan raut wajah gurunya atau orang tuanya dan mengoreksi dirinya dari pelanggaran yang tidak disukai oleh gurunya atau orang tuanya itu.

Pemberian sanksi ini bisa bervariasi tergantung kasus dan kadar pelanggarannya, dari yang ringan misalnya mengambil sesuatu yang menjadi kesenangannya hingga yang terberat yaitu pemberian pukulan ringan. Cara ini ditempuh jika berbagai cara tidak bisa menyadarkan anak dari kesalahan. Perlu diperhatikan bahwa pemberian pukulan jangan sampai membekas, menyakiti atau menjadikan ia trauma, melainkan hanya mengingatkan dan menyadarkannya. Pemberian punishment ini tidak serta-merta dijatuhkan seketika itu anak melakukan kesalahan, melainkan melalui tahapan-tahapan dan merupakan jalan terakhir yang ditempuh. Sebelum penjatuhan sanksi hendaknya orang tua atau pendidik mengingatkan dan memberikan nasihat terlebih dahulu namun jika anak ternyata tidak menghiraukannya, maka sanksi itu benar-benar dijatuhkan. Dan perlu diperhatikan ketika menjatuhkan sanksi, melihat waktu yang tepat dan bentuk sanksi sesuai dengan kadar kesalahannya.

Blog Sekolah

Peta Lokasi Sekolah

You are here: Home SD Artikel Umum Reward and Punishment, Masih Perlukah?