• Apresiasi Indonesian CultureBangga sebagai Anak Indonesia
  • Enjoy LearningPembelajaran yang Menyenangkan
  • Guru TerbaikGuru yang Hangat & Menginspirasi
  • EntrepreunershipMandiri, Berani, dan selalu berkarya
  • GardeningMenanam untuk bumi yang lebih hijau
  • PemimpinSetiap anak memiliki jiwa kepemimpinan
  • HijauMenjaga keseimbangan alam
  • PersahabatanBersama sahabat mempelajari seisi alam semesta
  • Scientific Process SkillBerbudaya Ilmiah dalam berfikir dan berperilaku
  • Save The Earth!Kampanye 3R : Reduce, Reuse, Recycle
  • The Best Place!Sekolah ramah anak
  • Satu KeluargaBersamamu melewati masa remaja
  • Kerja SamaDan tidaklah Allah menciptakanmu selain untuk saling tolong-menolong

Beranda

Sang Guru Kecil.....

Oleh : Wahyu Widowati, S.Si
Kepala PG/TK Alam Arridho

Sudah delapan tahun aku menjalani profesi sebagai tenaga pendidik. Sebuah aktivitas yang tidak pernah terlintas dalam deretan angan-anganku sebelumnya. Sepaket idealisme sebagai seorang lulusan sarjana S-1 akhirnyapun runtuh dengan tawaran yang sungguh tiba-tiba. Waktu itu ada informasi 'mendadak' tentang kekosongan formasi guru di Sekolah Alam Ar Ridho.Dengan berbekal 'iseng' akupun mencoba untuk mengikuti alur penerimaan itu. Bukan tanpa sebab keisengan itu muncul,karena memang sebuah profesi yang jauh dari bayanganku.

Guru TK.....? Pikirankupun berkelana....lulusan S-1 ( eksak ) jadi guru TK...?, belum lagi lontaran- lontaran orang tua yang juga hadir dalam prediksiku. ” Disekolahkan tinggi-tinggi koq cuma jadi guru TK....?”

Karena berawal dari iseng, sedikitpun aku tidak berharap akan diterima . Dan betul...saat pengumuman, aku tidak termasuk deretan nama-nama yang diterima. Sedih....?tidak ada pada kamus perasaanku saat itu.

Dua hari setelah pengumuman itu, aku mendapat telepon yang memberitahukan bahwa aku diminta untuk ikut seleksi selanjutnya. Lho....? Usut punya usut ternyata ada beberapa nama yang dinyatakan lolos seleksi ternyata mengundurkan diri. Akhirnya diambil nama-nama diperingkat bawahnya, termasuk namaku.

Kebingunganpun mulai bermain, kekhawatiran mulai berkecamuk, Apa nanti yang akan aku lakukan jika aku betul-betul diterima? Perasaan-perasaan itupun terus beradu dan semakin hebat saat mengetahui aku diterima sebagai salah satu guru TK di Ar-ridho. Apa nanti yang akan aku lakukan ? Bagaimana aku bisa menghadapi anak-anak usia 3-6 tahun itu?

Kujalani kegiatan-kegiatan itu sebagai rutinitas harianku. Meski masih dengan berbagai perasaan yang bersarang, tapi aku mencoba menikmati aktivitas itu. Ku coba bertahan karena ada setitik 'gengsi' mencoba hadir dalam hatiku, udah lulus kuliah tidak boleh jadi pengangguran.

Ketika anak-anak mulai merasakan kenyamanan berada didekatku, akupun mulai sedikit yakin dengan duniaku. Senyum tulus mereka sambil berteriak memanggil namaku saat baru tiba disekolah, berebut minta 'dipangku', sampai pada pelukan dan ciuman lembut dipipiku menambah keyakinanku bahwa sungguh indahnya hari-hariku. Betapa ternyata menyenangkannya profesiku......

Perasaanku mulai berbalik. Aku mulai menyukai hari-hariku. Aku sungguh mencintai murid-murid kecilku...( sebagaimana mereka mencintai diriku )

Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal yang telah aku dapatkan disini. Tentunya juga

pelajaran dan hikmah dari murid-murid kecilku yang selalu akan terus aku ingat... :

1. Selalu ingin tahu ( banyak belajar )

”Kenapa sih...ulat suka makan daun?”

”Kenapa to jari kok ada yang pendek ada yang panjang..?”

”Kenapa harus doa dulu ?”

Dan masih banyak deretan mengapa yang mereka lontarkan setiap harinya atas rasa ingin tahunya yang besar. Subhanalloh...merekalah...Sang Guru Kecil...

2. Tidak mudah dendam

”Ini punyaku....nggak boleh...hua....Amir nakal....” tangis Rere meledak sesaat setelah terlihat berebut mainan dengan Amir. Setelah diberikan pengertian, dan saling bersalaman meminta maaf mereka sudah tampak tertawa bersama.

Itulah mereka....Sang Guru Kecil....

3. Mudah berbagi

”Aku boleh minta permennya?” tanya Rudi pada Ray

”Nggak boleh...ini kan punyaku...” kata Ray

”Ya udah, besok aku beli sendiri yang baanyaak....kamu nggak ta kasih...” balas Rudi

”Ini buat kamu...” kata Ray (akhirnya)

Sepele...tapi dengan mudah akhirnya mereka bisa tersenyum bersama menikmati permen.

Bagaimana dengan kita...? Terkadang dengan banyak hal pemahaman tentang konsep berbagi ini masih sering kalah dengan ego dan nafsu kita.

Lagi-lagi dari mereka....Sang Guru Kecil...

4. Jujur

”Kok makannya Tony berantakan..”

”Tasnya bu guru kok kecil...”

”Tahi lalat Bu Wawid kok besar...” ? Bahkan saat kita bertanya kepada mereka...

”Siapa yang suka minum pakai dot di rumah ?”

Dari yang mulai teriak lantang sampai yang malu-malu beberapa dari mereka akan mengatakan...”Saya...”

Sekali lagi dari mereka....Sang Guru Kecil...

5. Semangat

”Ini lho bu...badannya panas tapi masih ingin masuk sekolah...” kata mama Hanun

”Pagi ini Rio bangun pagi bu...karena sudah tidak sabar ingin berenang bersama temannya...” kata Bunda Rio Itulah mereka...dalam kondisi apapun ketika ada sesuatu yang menyemangati dirinya akan mengabaikan kondisi sebenarnya.

Pelajaran akan semangat ini juga bisa kita lihat dalam keseharian mereka yang terus bergerak, dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain.

Lihat anak diam, melamun....pasti ada something wrong....

Betapa semangatnya mereka....Sang Guru Kecil...

6. Tidak mudah putus asa

”Hei....lihat...punyaku tinggi....” teriak Shihab saat bermain menyusun menara balok, tapi tiba-tiba...”Braak....” balok- balok itupun roboh. Sedihkah Shihab? Ternyata dia malah tertawa dan kemudian tampak menyusunnya lagi yang lebih tinggi. Kejadian tadipun terus berulang dan berulang.

Anak-anak tidak berkecil hati tapi justru akan mencoba lagi yang lebih tinggi... Luar bisa....itulah...Sang Guru Kecil...

7. Kreatif

” Kok roda mobil-mobilannya dilepas, Ren?” tanyaku

”Iya...” jawabnya singkat sambil berlari ke arah kolam di dekat kelas

” Bu Guru...ada kapal mobil....” teriaknya kepadaku

Beda lagi dengan si Aya

” Siapa mau beli es krim?” katanya sambil membawa gelas yang diatasnya diletakkan bola yang bentuknya memang menyerupai es krim. He....

Jempol dua deh buat mereka....Sang Guru Kecil...

8. Optimal dalam peran

”Kita main mama papa yuk....” ajak Rayhan

”Azka jadi mamanya aku jadi papanya....” katanya lagi

”Aku jadi tante ya...siapa yang jadi adiknya?” tanya Alifa

”Aku...” jawab Rasheed

Sering bermain peran mereka lakukan dan melibatkan banyak teman. Meskipun terkadang terlihat ada yang protes

” Aku nggak mau jadi mama ah...tante aja...”

Tapi akhirnya toh mereka terlibat bersama dalam permainan itu.

Ih....lucunya mereka...Sang Guru Kecil...

9. De...el...el...

Masih banyak lagi pelajaran, inspirasi dan motivasi dari mereka...

Terima kasih Guru Kecilku.....

{jcomments on}

 

Klip Selayang Pandang Sekolah

Blog Sekolah

Peta Lokasi Sekolah

You are here: Home Artikel KBM TK Artikel Umum Sang Guru Kecil.....